Alasan Memiliki Pembantu/Pengasuh
Ada hal yang cukup membuat saya tergelitik, ketika ada seorang sahabat dekat saya memiliki 2 orang baby sitter dan 2 orang pembantu. Ternyata, blio memiliki 2 orang anak, laki dan perempuan, serta pembantu yang mengurus masalah rumah tangga dan keperluan lain. Hampir seluruh pekerjaan rumah tidak ada yang dikendalikan olehnya, sebagai tuan rumah.
Ketika sang baby sitter dan pembantu mudik kemarin ini (yang katanya belum kembali :)), blio sangat kewalahan dan sangggaaaaattt lelah yang luar biasa. Harus mengurus anak mandi, makan, belum lagi harus pergi ke pasar, memasak karena kehabisan pembantu pengganti/sementara di pusat2 penyalur.
Hal ini sebetulnya tidak perlu terjadi, jika kita telah terbiasa melatih kemandirian anak sejak awal, mulai dari merapikan tempat tidur sendiri, mengajari mencuci pakaian, belajar memasak (bagi anak perempuan) serta membereskan rumah. Alhasil, jika itu semua sudah dilakukan,kita tidak perlu terlalu bergantung kepada sang baby sitter dan pembantu.
Memang sangat jauh perbedaan orang tua di Indonesia dan di luar negeri, pada saat musim liburan tiba, justru para orang tua turun tangan dalam mengurus rumah tangga dan mereka sangat enjoy mengerjakannya.
Apa efek dari anak yng terlalu disediakan segalanya? anak menjadi kurang tangguh, mudah putus asa dan memaksakan segala sesuatunya harus ada dan tersedia. Hal ini sudah sangat terbukti dari kualitas sumber daya manusia Indonesia saat ini.
Comments (9) Added by admin February 20, 2010 (4:01AM)
Pendidikan Seks Bagi Anak
Hah? tau dari mana kamu kata-kata begituan? atau..."hussh, udah ah...belum saatnya kamu pikirin gituan..."...kata-kata tersebut hampir setiap saat keluar dari mulut kita orang tua, dikala anak kita yang masih balita bertanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan seks.
Topik seks adalah hal yang harus disampaikan secara hati-hati kepada anak. Terlebih lagi jika anak kita adalah anak yang kritis untuk tahu segala sesuatunya lebih detail. Jika anak anda menanyakan sesuatu terkait masalah seks, cobalah anda jelaskan dengan cara yang ringan sesuai dengan usia anak. Misalnya :
" Bun, kenapa Mas Dito ada burungnya aku tidak?"..."Karena Mas Dito laki-laki dan De' Dita perempuan...itu semua pemberian Tuhan, untuk membedakan mana laki dan mana perempuan".
Intinya, dalam penyampaian pertanyaan-pertanyaan anak seputar seks, haruslah dijawab sesuai dengan daya nalar mereka. Kerap orang tua kebingungan untuk menjawabnya. Hal ini disebabkan kita sebagai orang tua belum siap memenuhi dirinya dengan trik dan cara yang jitu untuk menjawab pertanyaan tersebut, serta masih menganggap belum saatnya anak tahu masalah seks.
Peran orang tua, terutama ayah sangatlah besar dalam menjawab pertanyaan anak seputar seks, terlebih jika anak tersebut adalah anak laki-laki. Seiring pertumbuhan usianya, mereka perlu diberikan pengetahuan sedikit demi sedikit tentang perannya sebagai anak laki-laki. Memisahkan anak laki-laki dan anak perempuan di kamar terpisah saat tidur adalah salah satu bagian untuk mengajari anak tentang pendidikan seks, bahwa sudah saatnya mereka mengerti perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Usia balita adalah usia-usia kritis mereka dalam bertanya mengenai sesuatu hal. Namun perlu diingat daya pikir mereka masih bersifat abstrak, sehingga dalam menjelaskannya pun anda harus sejelas mungkin.
Comments (10) Added by admin February 20, 2010 (3:58AM)
Permainan Tradisional
Masih ingatkah jaman kita masih kecil-kecil dulu, mainan tradisional apa saja yang kita sukai? hmm, saya ingat, ada tok kadal, galasin, kelereng dan untuk perempuan ada bekel, ampera dll. Trus pernah juga main cublek-cublek sueng,hahahaha sungguh menyenangkan.Tapi kemanakah permainan itu sekarang? hmmm, perlahan-lahan hilang sehingga anak-anak kita tidak sempat merasakannya. Betapa permainan tradisional dirancang sedemikian rupa sehingga sarat dengan melatih kecerdasan emosional anak.Anda bayangkan dulu jika kita sedang bermain, apa yang pertama kali kita lakukan? aturan bermain.Betul, aturan bermain membuat kita taat pada aturan dan mengerti rambu2 yang tidak boleh kita langgar. Lantas, kita akan menunggu giliran,menunggu giliran melatih kita untuk bersabar. Pada saat permainan kita dituntut untuk tidak boleh curang dan bersedia menerima kekalahan hal ini melatih kita untuk sportif.Kenapa bermainnya harus bersama-sama dan banyakan jumlahnya? karena pada saat itulah, kita dilatih untuk bekerjasama.Hal-hal tersebut diatas, sedikit banyak mempengaruhi kepribadian kita. Sehingga, muncullah kita sebagai orang tua dengan pribadi seperti sekarang ini. Lalu, bagaimana dengan anak-anak kita? akankah kita selalu mengenalkan mereka pada PS, permainan kekerasan dan online games? selain interaksinya hanya satu arah, hal ini juga akan berakibat tumpulnya kecerdasan emosional anak.Anda punya pengalaman menarik mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak anda? sharing yuukkk
Comments (18) Added by admin February 17, 2010 (4:56AM)